JOM! Pergi dan meriahkan. Kita gembleng tenaga dan influence public opinion. Kalau tiap-tiap hari tengok berita dan jadi desensitization, kita sensitifkan balik isu ini. Ini isu kemanusiaan. Orang beriman tinggi sensitivitinya terhadap isu umat.
Jadi, sesiapa yang ada berdekatan dan di Penang, jom datang ramai-ramai!
Sebelum habis Ramadan, saya ada membeli beberapa buku. Mood semasa Ramadan merupakan mood cinta. Jadi, semasa ke kedai buku, saya membeli buku perihal cinta. Buku mengenai kekasih saya, Syamail Muhammadiyah(Keanggunan Nabi Muhammad) - Imam Tirmizi dan juga buku Hilal Asyraf, Sebelum Aku Bernikah. Hasrat nak membeli Is God A Mathematician? saya tangguhkan. Momentum Ramadan ada, jadi kena garap hikmah-hikmah selagi semangat itu ada. Biar hikmah jadi kefahaman, dan kefahaman memandu istiqamah di bulan lain.
Sekembalinya saya di sini(Penang), saya meminjam buku Kecerdasan Asmaul Husna, Sulaiman Al Kumayi. Sepanjang di sini, sudah enam buah buku saya pinjam dan habis baca. Semuanya buku mengenai sains dan saintis. Understanding Einstein, Black Holes and Baby Universes - Stephen Hawking, The Great Beyond; Higher Dimensions and Parallel Universes, dan lain-lain. Jadi, memang sepanjang di sini sebelum raya moodnya mood sains, bila masuk Ramadan jadi mood hamba yang mencari cinta. Alhamdulillah, Ramadan kali ini saya bahagia. Tiada apa yang saya sesalkan. Moga-moga Allah terima segalanya.
Raya kali ini agak mendebarkan. Saya tak sentuh walau sebiji pun kuih raya (Heheee : Gelak Shin Chan nakal). Di pagi raya, kami berkumpul di Kubang Kerian. Sesudah ibu, ayah dan makcik pakcik saya bersalaman dengan datuk dan nenek saya, saya membacakan doa. Panjang doanya. Bercucuran air mata makcik pakcik ibu ayah saya. Saya berdoa kepada Allah, merasai harapan ibu saya selama ini. Alhamdulillah. Ini kali pertama semua adik-beradik dapat berkumpul setelah lebih sepuluh tahun tak dapat berkumpul bersama. Saban tahun saya melihat ibu saya sedih, kerana sedikit perselisihan dengan nenek kami, hanya keluarga kami sahaja yang beraya di sana. Kadang-kadang sangat dapat bertembung dua beradik di rumah nenek kami. Saya belajar nilai yang sangat penting dalam keluarga daripada kejadian ini.
Lebih mengejutkan, biasanya saya hanya menitis air mata ketika bersalaman dengan ibu ayah saya. Sikit je. Tapi tahun ini, saya menangis di bahu mereka. Saya tak cakap apa-apa. Saya pandang wajah mereka, saya salam tangan, saya letak muka saya di bahu mereka. Menangis macam budak-budak. Habis basah baju ibu ayah saya. Lagi-lagi masa tengah meraung di bahu ibu saya, ibu saya berbisik "Anak mama, Mama sayang. Lagi dua je Allah tak makbulkan lagi doa Mama untuk abang. Jadi Hafiz Quran, Allah dah makbulkan. Lagi dua, Mama doa abang dapat pimpin masyarakat, dan Mama doa abang mati syahid. Itu doa Mama". Lagi kuat saya menangis. Maklumlah, anak sulung. Bukan selalu dapat rasa ibu belai kepala. Dah habis menangis, sempat lagi saya tanya, "Ma, tak doa untuk Asif kahwin ke?". Keh. Entah macam mana soalan itu keluar pun saya tak tahu. Tiba-tiba. Moga saya dapat jadi anak yang baik. Mereka tak pernah putus asa untuk saya, dari saya kecil hingga besar. Banyak dosa saya pada mereka. Saya tahu dalam hati saya, saya cinta mereka. Sangat-sangat cinta. Tak pernah berlalu sehari tanpa nama mereka disebut dalam doa saya.
Saya sering tertanya-tanya, terutama pada bulan Ramadan lepas. Apakah nilai cinta saya di sisi Allah? Macam mana untuk saya ketahui adakah cinta saya bernilai atau tidak di sisi Allah? Saya tidak tahu jawapannya. Tapi saya merasakan, cinta itu perasaan yang menenangkan dan membahagiakan. Saya merasakan bila kita hidup dalam senang, kita bersyukur. Bila hidup diuji, kita solat dua rakaat memohon sifat redha dan bersangka baik pada Allah.
Alhamdulillah, bila saya terima berita yang saya kurang berkenan, saya terus mengambil wudhu' dan menunaikan solat dua rakaat. Andai sebelum ini walaupun saya bersabar, tapi hati saya akan sakit. Tapi Alhamdulillah, kali ini rasa sedih itu saya pulangkan kembali pada Allah. Andai itu yang terbaik, mohon dikurniakan redha. Saya sentiasa berdoa pada Allah agar segala keputusan hidup ini dipandu Allah, bukan dipandu oleh kecetekan akal diri sendiri. Walaupun kadang-kadang kemahuan itu terlalu kuat, kemahuan itu saya pulangkan kembali kepada Allah. Andai ianya baik, pulangkan ia kembali pada saya. Andai tidak, hilangkan ia dari hati saya.
Hidup ini punya tujuan. Jangan mudah terleka dengan distraction lain. Sentiasa belajar dari kesilapan.
Ya, hidup saya ada impian. Saya punya tiga impian dalam hidup. Andai Allah ingin gugurkan mana-mana impian saya, saya redha. Impian boleh digugurkan, namun tujuan itu pasti. Tujuan hidup kita ialah Allah. Paksikan itu dalam hati.
Sentiasa check dari masa ke semasa, bagaimanakah cinta kita? Adakah bila kita sujud, hati kita merasakan kehinaan dan kehambaan? Adakah kita ingat pada Nabi semasa kita senyum, bergurau, makan, dan solat? Kerna itu semua sunnah nabi. Di akhir zaman ini, di mana nabi telah tiada, link kita untuk menyemai rasa cinta pada Nabi hanyalah dengan mengamalkan sunnah nabi, selawat dan membaca sirahnya.
Sentiasa rujuk hubungan kita dengan Al Quran. Adakah kita menjaga dan mengamalkan isi Al Quran? Adakah kita faham ciri-ciri dalam Surah al Mu'minun? Sudahkah kita maklum ciri-ciri orang bertaqwa yang terletak di banyak tempat di dalam Quran? Sudahkah kita faham berapa kali Allah berpesan, yang Allah akan meneguhkan tapak kaki mereka yang berada di jalan Allah? Malah Allah siap menghantar malaikat untuk bersama dengan kita.
Saya ingin syorkan satu buku yang sangat bagus. Bekalan Sepanjang Jalan Dakwah, Mustafa Masyhur. Sangat peribadi dan hidup. Beliau mengajak kita untuk mencari bekalan dalam solat, di dalam Quran, zakat, haji, tafakur pada nikmat, dan takfakur pada ciptaan Allah. Best!
Juga buku Syamail Muhammadiyah. Ada di MPH. Tak padan langsung dengan harga. Harga murah, isinya masya Allah tak ternilai. Cinta pada nabi berbunga.
Sejak saya habis buku itu, saya sering berdoa sebegini di akhir doa saya, " Ya Allah, aku sangat merindukan kekasihMu, Rasulullah. Kirim salam sayang rinduku padanya. Allahumma Sholli 'ala Muhammad. Aku ingin dahiku dicium olehnya di syurga nanti".
Hargai cinta kita, pupuk dan semai. Kerana kita akan bersama dengan siapa yang kita cintai di akhirat nanti.
Berikan nama-nama Allah - At Tawwab, Ar Rahim, Ar Rauf dan banyak lagi nama-nama indah lain nilainya. Yakinilah Allah itu at Tawwab, Maha penerima taubat. Yakinilah Allah itu ar Rahim, Maha penyayang. Berikan nama Allah haknya, berikan nama Allah sifatnya, berikan nama Allah nilai cintanya. Moga dengan itu, cinta terus berputik. Tak kenal, maka tak cinta. [Kecerdasan Asmaul Husna]. Insya Allah.
Problem statement Last year, I went to a program organized by United Religions Initiative. I am sure most who followed my blog read it. It was a really good and effective program - their scheme along the program was to sit in group, to share, and to interact, sometimes multimedia presentation. Sharing opinions was really encouraged. Even some Muslimah colleagues of mine, who could barely speak in English before they attended, ended up being brave and courageous enough to speak to others in English. In the program, there were representatives from different countries[Australia, India, Thailand, Philippine, UK and others], cultures and religions[Islam, Christian, Buddha, Bahai, Hindu, Jungle Spirit]. I learned a lot from that program, and I made very good friends. There were some issues, and of course, as a normal person, some issues were meant to be resolved later owing to lack of capacities and means.
There, I was taught that 'tolerance' was a very bad word. The word implies your action is unwilling and forced. 'To put up with'. For example, you hate eating veges. But, you tolerate it, because it is good for your health. In a simple word, tolerance carries a negative luggage, or connotation. So, it is not good, to bring the concept of tolerance into a religious framework. It is like your tolerance is not based by good intention, because you TOLERATE. So we asked, what's the solution? The presenter said, we dissolve the barrier. Anything that stands between us and them, we dissolve. Any differences or any conflicts - are to be dismissed and carry on. The keyword is to ACCEPT others by heart. Even if our religious obligations were in the way. We are told, not to be too extremist. This was when I started to disagree. For other religion, it might be easy. But for Islam, this issue had been carefully fortified. As Syirk, to associate partner to Allah is the biggest sin in Islam. Na'uzubillahi min Zalik. Neither the framework nor technical means had been explained at that time.
My friends and I later continued to gather information. The program was around three to four days if I am not mistaken. We learned, that if anything comes between us and our objective, objective comes first. Their objectives for example are, to promote peace and understanding, to prevent religious-motivated violence, to advocate justice and equality etc. It was a big relief that we had been able to put it in an actual framework, crystal clarity. For example, I was told by a Muslim friend from overseas attending the program, to him, it's okay to touch hands with women, as long as your intention is to introduce them to Islam. And there he was, hugging and poking female colleagues. Another example, when our religious duties were the reason for religious-motivated violence, or not accepting others, our duties should be dismissed. Even if it means to sacrifice our aqidah. Another example, when we were brought to a Gurdwara (Sikh's temple), we saw our friends from other beliefs joined their prayer ritual. In the name of respect and acceptance, they joined together the ritual, as if they agreed to worship other gods than theirs'. Why in the name of respect and acceptance? Because these were the values portrayed in the program. Their concept of acceptance was not to accept differences and work around it, but rather dissolve any differences and pass through once was a closed perimeter; a religion and its principles in this case. In that kind of acceptance, acknowledgement does not exist.
The explanation to this situation is - in order to achieve goals, some things are to be sacrificed. In this context, things that are needed to be sacrificed sometimes are the very foundations of the religion itself. What makes us human? Consciousness, love, conscience, awareness, logic, feelings? The answer may differ, but if we are to shed the essence that makes us human in order to achieve our goals, can we be called human? As the answer to define human sometimes may fall into the category of subjectivity, my religion which is Islam is not like that. What makes Islam is definite, specified and absolute. It had been mentioned by our beloved Prophet Muhammad peace be upon Him, that Islam is built on the 'fives' - Syahadah, Prayers, Zakat, Hajj, and Ramadhan fasting [From Umar Al Khattab, narrated by Muslim and Bukhari]. By definition, these pillars are what made me a Muslim. If I were to violate any one of those pillars, am I able to call myself a Muslim? I tried to understand their situation. It was understandable, their religions weren't like Islam. Islam is a religion - built upon a very solid foundation. The main sources of Islam which are the Quran and Hadith are authentic, abundant, and are studied comprehensively. The historical validity of these sources are proven firm and authentic. Therefore, Islam in terms of principles, technical and knowledge basis had already been clarified and completed by Prophet Muhammad. It's not their fault if they were not aware of my concern regarding this.
Searching for solutions After the program ended, I still could not resolve it. I have a situation; I accepted the problem in this context - TOLERANCE. The concept behind this is the reason why any interfaith cooperation is short-lived, impulsive, sometimes dangerous, and often incite religious-motivated violence. That's the case of cooperation, what about people with different beliefs living next door? Around the globe, there are many cases regarding interfaith violence. People with self-centered attitude, imposing forced pressure in the name of religion, making hostile encounter with other beliefs. As far as I am concerned, Alhamdulillah, people around me, and those whom I know, they are friendly and open with people from other beliefs. And these cases of violence rarely happen in my locality. Still, I acknowledged the problem stated by the organizer. I will help and support to heal the world, be it religious, humanity, gender or animal issue.
However, I did not accept the solution they suggested. I disagreed with them. At that time, I believed there must be another way to solve this. I could not find the right solution, or may I say, a proper reasoning to reach the solution I had hoped for. ACCEPTANCE in their definition to me was oblivious, and works one way. And along the way, I searched and read for solutions. Some people will be okay with an end-of-means solution, but for me in this aspect, I am not satisfied with it until I find, know, and understand the accurate framework and reasoning of a solution.
The Quest for Meaning Alhamdulillah, I found a way. I think it will provide a very good impetus for me to start constructing answers. I am now reading a book, The Quest For Meaning; Developing a Philosophy of Pluralism by Tariq Ramadan. In this book, he made a very good point of view - providing a vantage point for formulating practical solution(s) when dealing with issues of inter-faith and inter-sectarian. He said 'The point is not to integrate systems, values, and cultures with other systems, values and customs, but to determine - in human terms - spaces of intersection where we can meet on equal terms. The intersection of what we have in common, rather than the integration of differences'. This point is undoubtedly beautiful. Although, it requires us, to throw away some archetypes when it comes to rivalry and difference. For us to work together for the betterment of this world, we really need to cooperate at hand with our similarities and deal with differences. We have to digest the attitude 'agree to disagree' and move forward. It is only my opinion, but for us to benefit and function at our optimum level, this concept should be introduced. It's not only should be applied to inter-faith relations, but to Muslim, inter-jama'ah as well.
Say, "O People of the Scripture, come to a word that is equitable between us and you - that we will not worship except Allah and not associate anything with Him and not take one another as lords instead of Allah ." But if they turn away, then say, "Bear witness that we are Muslims [submitting to Him]." [Ali Imraan : 64]
The concept has already been introduced in the Quran. In this verse, there is a direct command and, from my humble view, an indirect lesson. The direct command was for us to invite Ahlul Kitab to come and talk about our similarity - having Allah as our God. The indirect lesson was for us, to acknowledge, different people comes with different character. Our job is to find the right similarity or common space. We cannot come to an atheist and say to him, 'We are the same. We worship one God'. Instead, if he is a humanitarian activist, we might rather say, 'Hey, you and I. We love peace and justice. Why don't we work together and work it out from this common point?'. If he refuses, we will not force him to accept. But, we will continue to make allies and move on.
Hilful Fudhul I love to share with you a story, from our Prophet's seerah. The chapter is called Hilful Fudhul. This event happened before Prophet Muhammad's (pbuh) prophethood. Once, in Mecca, a Bedouin from Zabid [Zubaid] came to do business. He sold his merchandise to one of the Quraisy chieftains, al 'As ibn Wa'il. Al 'As purchased the whole caravan but paid nothing to the man. Upon this, the man met several leaders around the vicinity to ask for help, but none of them wanted to help. He later went to the crowd, calling out loud noble-hearted and fair-minded men to come to his rescue. Many of them later gathered at Abdullah bin Jud'an's house to form a pact. In the name of Allah, a pact called Hilful Fudhul - all the representatives present made an oath to restore justice, refrain from injustice and to assist the oppressed within Mecca. The members of the covenant later forced Al 'As to return all of the man's belongings. Prophet Muhammad was one of the members, and even after a long time in its prophethood, he still appreciated and satisfied with the pact. Prophet Muhammad even expressed his appreciation :
لقد شَهِدْتُ فى دار عبدالله بن جُدْعَانَ حَلفًا لو دُعِيتُ بهِ فى الإسلام لَأَجَبْتُ , تحَالفُوا أن يَرُدّوا الفُضُولَ على أهلها وأن لا يُعِزُّ الظالمُ مظلومًا
“I had a hand in making such an arrangement in the house of ‘Abdullah Ibn Jud’an to which if I were invited again to help even after the advent of Islam, I would have undoubtedly participated once more. They promised to restore all the rights of the oppressed to the owner so that wrongdoers can not do injustice to the weak. "” [Sirah ibn Hisyam]
Prophet Muhammad's love for good values should be the perfect example for us. In these days where people work together to oppress others, we should do the same. If only, we could put aside and acknowledge our differences, and work together to achieve our goals, this world will be a better place. Aside from working together, as a Muslim, of course it will provide us a better opportunity to present and share Islam to others. It's time for us not to confront others with hostile and cold attitude. We cannot expect people to accept our message of peace, if we are not men of peace ourselves. Islam is a religion in which its constituents are chained by proper logic and reasoning. So, if we want to relay the message of Islam, we should be civilized because the vantage of reasoning comes with the act of civilization and adab.
Hope Lately, activists [ikhwah & akhawat] have been too preoccupied arguing over petty issues - which jama'ah is the best, the most authentic, the most original, these and that have hidden agenda, racist, cooperate with kuffar and many more. These kind of issues have been already solved by 'Ulama with concrete answers and arguments. No need to cause another upheaval. There are many people out there who are in need of our insight, help, guidance, and company. Help them.
Could You help me.. Before I end, I have in my mind two questions. If you are able to answer it, or help me to find the answer, do PM me in FB or drop a comment. I would be happy if you do so.
1. Islam and prophet Muhammad were sent as rahmah lil 'alamin. Blessings. So, I want to ask, related to my post, what kind of rahmah does it mean? Is it rahmah as if in justice, equality and equity, good governance, no corruption, no poverty, no wars and confrontation - blessings that will be enjoyed when Islam at its peak? Or rahmah as in people revert into Islam?
2. In this aspect [ideology, philosophy], I view them as a set that can be divided. For example, liberalism. I view liberalism can be divided into smaller parts. And the way I deal it, is I think we can take good parts to be integrated into our life. I don't take generalization and throw away the whole thing. I think, that philosophy/theory/ideology is a product of human mind. Be it guided or unguided. And I think, there is any grain of truth everywhere anywhere that is waiting to be picked up, by us Muslims. All in all, I don't reject the whole idea until I really know what it is. I see something in socialism, in secularism, in liberalism, and in this post, something beautiful in pluralism. And I don't think it as replacing Islam, no, Islam can never be replaced, at all. But I think, we are in need of tools and somehow, these tools are hidden in those ideologies. So, I want to ask your opinion. Am I in the right way of thinking?
Clarification - I hate Zionism and Zionists. Lastly, I want to clarify. It might seem that I'm proposing open-mindedness in this post. Still, take note - there is a huge difference in khilaf between two opinions, and khilaf between opinion and BATIL[in Islam]. I mean, sometimes, it is necessary to confront. I bring one example, Israel is attacking Palestine. And McD is proven to contribute a huge portion of money to Israel. If someone is said, it is khilaf, I should accept it and go on. I will say no. I will respect his choice to eat McD, but I will say, what he does is a batil, a sin, a zulm, a support in the act of oppression. An inconsiderate and selfish action. It is as clear as day, and who cannot even see the reasoning behind it, should question your humanity.
As Che Guevara once said "If you tremble with indignation at every injustice then you are a comrade of mine". Let us be the comrade of Godly values and let us promote peace.
Aiman Azlan's twitter
p/s - baru beli album Maher Zain. Lagu paling best, Paradise. Do listen to it, and talk to your wind. I have my angel beside me. p/s - any statement regarding other faith, culture, and religion in this post does not mean disrespect. I am deeply sorry if any of those offended any. Do tell if there is any.
Aku tak pernah tertanya, kenapa salah satu cara kita zahirkan cinta kita kepada Nabi tercinta kita ialah dengan berselawat. Tak pernah terdetik. Sampai pada satu hari, ada satu soalan dilontarkan oleh rakan aku di dalam group FB dari seorang rakan non-Muslimnya - kenapa Muslim mendoakan nabi Muhammad, dan meminta kesejahteraan ke atas nabi Muhammad, sedangkan nabi Muhammad itu dikatakan makhluq terbaik, tak perlu didoakan pun? Alhamdulillah, jawapan ada dari segi logik.
Satu perkara yang menarik mengenai Islam ialah aku akan (selalunyalah, peringkat orang awam) dapat ikut balik jawapan yang dibentangkan, disebabkan Islam itu diikuti dan dikukuhkan oleh hujah dan logik. Tapi jawapan dari segi peringkat akal sahaja lah, nak kata peringkat kefahaman dan penghayatan hati itu tak sampai lagi.
Kisah 1 - Dalam pengalaman di jalanraya, aku selalu terserempak dengan keindahan akhlaq manusia. Antaranya - pernah di satu traffic light, ada seorang buta yang ingin melintas. Pemandu kereta di hadapan kereta aku turun, untuk membantu orang buta tersebut melintas. Walaupun semasa melintas, lampu merah sudah bertukar hijau, namun kereta lain yang di belakang tetap bersabar. Tak ada riak-riak hon marah atau suruh cepat. Masing-masing bersabar dan menunggu. Sehingga orang buta itu selamat melintas baru kereta mula bergerak. Pada ketika itu, aku sangat bahagia dan gembira dengan mereka, sampai aku mengucapkan "Barakallahu fiikum" untuk pemandu budiman dan juga audience jalan raya yang bersabar. Hati aku benar-benar mengharapkan agar kebaikan dilimpahkan kepada mereka.
Kisah 2 - Ada juga pengalaman di atas motor, semasa hujan. Hujan tiba-tiba lebat (atau aku masuk kawasan hujan tengah lebat), aku tercari-cari tempat untuk berteduh. Selalunya, aku akan kira-kira jarak antara lecak di jalan raya dan juga kedudukan kereta mendatang di lane kiri atau kanan. Untuk elak terkena percikan bila kereta laju memecut melalui lecak itu. Tapi ada sekali itu, sebab lebat sangat, tak sempat nak estimate kelajuan motor, kedudukan lecak, dan juga kelajuan kereta dari lane sebelah kanan - lane laju. Masa itu memang pasrah dah, semestinya kena sembur. Tapi kereta itu tiba-tiba perlahankan sikit kelajuan dia supaya aku sempat lepas lecak itu sipi-sipi sahaja sebelum kena sembur. Aku tak tahu sama ada pemandu itu dengan sengaja memperlahankan kereta, ataupun atas sebab lain. Regardless, I manage to pray for him, "God Bless..".
Islam dan sumber Dalam satu seminar perbandingan agama, pernah ditanya, apakah entiti/perkara paling penting dalam Islam, Kristian, Buddha? Dijawab oleh ahli panel itu sendiri - dalam Islam, yang paling besar dan paling penting ialah Allah. Dalam Kristian, dosa. Dalam Buddha, penderitaan. Dalam akidah Islam juga, kita mempercayai tanpa ragu - Allah is the cause of everything. Dengan kuasa Allah, terjadi manfaat dan mudharat. Premis ini disokong oleh dua dalil dari Al Quran dan Hadith.
Al Quran [Al A'raf : 188] Katakanlah: "Aku tidak berkuasa mendatangkan manfaat bagi diriku dan tidak dapat menolak mudarat kecuali apa yang dikehendaki Allah.
Hadith 40 Imam Nawawi Daripada Abu al-'Abbas, Abdullah ibn Abbas, r.a. رضي الله عنهما beliau berkata: Aku pernah duduk di belakang Nabi SAW pada suatu hari, lalu Baginda bersabda kepadaku: Wahai anak! Sesungguhnya aku mahu ajarkan engkau beberapa kalimah: Peliharalah Allah nescaya Allah akan memeliharamu. Peliharalah Allah nescaya engkau akan dapati Dia di hadapanmu. Apabila engkau meminta, maka pintalah dari Allah. Apabila engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan dengan Allah. Ketahuilah bahawa kalau umat ini berkumpul untuk memberikan sesuatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu memberikanmu manfaat kecuali dengan suatu perkara yang memang Allah telah tentukan untukmu. Sekiranya mereka berkumpul untuk memudharatkan kamu dengan suatu mudharat, nescaya mereka tidak mampu memudharatkan kamu kecuali dengan suatu perkara yang memang Allah telah tentukannya untukmu. Pena-pena telah diangkatkan dan lembaran-lembaran telah kering (dakwatnya).
Hadis riwayat al-lmam al-Tirmizi. Beliau berkata: la adalah Hadis Hasan Sohih.
Difahami daripada kedua sumber di atas, tiada 'cause' lain bagi manfaat dan mudharat dalam Islam kecuali Allah. Aqidah yang suci dan sejahtera. Daripada asas ini, umat Islam diajar untuk menzahirkan kecintaan kita pada nabi. Bukan kita diminta berselawat kerana Nabi dalam keadaan 'desperate' dan memerlukan cinta umatnya sebagaimana dalam halnya Zeus dan Hades. Namun, kerana kita meyakini - kebaikan itu tidak lain tidak bukan hanya datang dari Allah. Sebaik-baik kecintaan untuk kita ucapkan ialah mengharapkan kebaikan dan kebahagiaan dilimpahkan kepada beliau. Mana mungkin kita mahukan untuk orang yang kita cintai selain dari kebaikan dan manfaat. Dan pemilik segala kebaikan, rahmat, kegembiraan, dan ketenangan ialah Allah.
Betapa sucinya aqidah Islam, bila kita inginkan orang yang kita cintai itu memperolehi kebaikan, kita diajar untuk meminta pada Pemiliknya. Suci daripada syirik dan kemungkinan untuk menjadikan cinta kepada makhluq diangkat menjadi tuhan, dewa dan sembahan. Kita diajar untuk berdoa kepada Allah, supaya dilimpahkan kebaikan kepada si dia. Tiada jalan lain dalam Islam untuk memperolehi manfaat kecuali daripada Allah. Oleh itu, satu-satunya cara ialah memohon kepada Allah untuk dilimpahkan kebaikan padanya.
Pada fitrahnya, kita memerlukan Allah.
Wahai umat manusia, kamulah yang sentiasa berhajat kepada Allah (dalam Segala perkara), sedang Allah Dia lah sahaja Yang Maha Kaya, lagi Maha Terpuji ”. [Faatir: 15]
Dan aku tak tahu ucapan cinta mana lagi yang lebih indah dan cantik untuk nabi kita melainkan dengan selawat.
"I try to follow your way, and do my best and live my life as you taught me. I pray to be close to you, on that DAY and see you smile when you see me" The Chosen One, Maher Zain.
Sudah sebulan habis membaca novel Hilal Asyraf - Takdir: Cahaya yang tak terpadam. Masih lagi terasa semangatnya. Lain kesannya berbanding novel-novel lain. Memang, setiap novel dan cerita ada kesan berlainan. Contohnya novel Ayat-ayat cinta, karakter utamanya membawa pembaca cenderung untuk menjadi 'romantik-baik-warak' sebegitu. Oh tidak. Aku bukan orang sebegitu - jadi, kesan buku-buku cinta yang bertemakan Islam tidak begitu berkesan. Banyak mana pun baca novel macam itu, macam ini je lah tuan yang membacanya. Karakter-karakter yang dibentangkan tidak begitu diminati. Terkesan memang - tetapi tidak berapa 'fit' dalam idea ke'hero'an yang ada dalam kepala.
Hari itu jalan-jalan di Giant. Selalunya kalau Ayaz dan Saif datang angin pelik mereka, akan sentiasa diminta bawa ke Giant untuk puaskan kehendak. Selalunya nak aiskrim dan donat coklat - yang mana kadang-kadang makan sikit lepas tu tak habis. Jadi masa jalan-jalan, nampak buku, usha sikit-sikit. Nampak buku Hilal Asyraf. Belilah. Perh. Satu hari baca sudah habis. Menakutkan sungguh. Teringat lagi masa tingkatan 4 - Asyraf Roslan bagi pinjam buku Warcraft Archives. Buku tebal tu compile kan 4 lore dalam Warcraft - memang lama baca sebab tebal, tapi habis sebab kita tertarik nak habiskan. Novel Hilal Asyraf yang ini ada kesan addiction yang sama macam novel Warcraft tu. Haunted, sebab sangat best.
Nak ceritanya, betapa seronok baca buku tu, sampai habis baca masa makan malam declare - "Cop..semua, nanti nama anak-anak Asif, Asif nak letak nama Fathi Auni dengan Fathan Adi. Jangan amik..". Takkan nak letak nama hero Angkasa pulak kan, kuno benor namenye. Haha. Betapa fanatiknya. Kenapa aku minat? Sebab aku sangat menyukai idea seorang lelaki, yang bukan sahaja di'equip'kan dengan akhlaq yang baik dan ilmu yang kukuh - tapi seorang lelaki yang mempunyai ciri-ciri kepahlawanan. Mungkin ini ciri-ciri lelaki tradisional. Biar. Aku lebih suka begitu. Betapa indahnya seorang lelaki yang mempunyai keupayaan untuk melindungi. Melindungi orang lain yang lebih memerlukan.
Sinopsis dan Nilai Ceritanya berkisarkan akhir zaman yang betul-betul akhir. Tiada lagi senjata elektronik dan sebagainya. Jika hari ini kita dapat melihat sehingga peluru biasa pun mempunyai sirip untuk ketepatan. Sirip yang sentiasa meng'update' posisinya dengan satelit, dalam beratus mili saat, kecepatannya meng'adjust' posisi untuk mengenai sasaran. Tapi, zaman dalam novel ini, semua itu tiada. Bak kata Encik Einstein yang mengatakan perang dunia keempat akan menggunakan kayu dan batu. Latar masa ketika itu memang seolah-olah pada masa itu masa zaman dahulu. Hendak ke kota seberang wataknya menggunakan alat jarak zaman dahulu. Jika sekarang jarak diukur menggunakan kilometer, dalam novel ini menggunakan 'sehari perjalanan' atau 'dua hari perjalanan'.
Heronya Angkasa, yang mengembara untuk memenuhi takdirnya. Zaman itu zaman gelap - zaman seluruh dunia tunduk pada Sang Asura, watak jahat yang memerintah dunia. Dalam kegelapan dunia, masih terdapat segelintir yang masih berpegang pada kebenaran. Unsur 'Islam' dalam novel tersebut sering digandingkan dengan langit. Agama Langit, Kitab Langit, Utusan Langit. Yang menariknya, seni beladiri di dalam novel ini juga membabitkan fantasi yang besar. Bagi mereka yang pernah menonton Avatar The Last Airbender, Naruto, ataupun One Piece - membayangkan seni beladiri di dalam novel ini tidak menjadi masalah. Latar masyarakat di dalam novel ini, dari kalangan pahlawan mereka segelintir menguasai seni aura. Seni yang menggunakan tenaga di sekeliling. Semacam 'form chakra' di dalam Naruto yang terdiri daripada pelbagai jenis chakra iaitu angin, api, tanah, kilat, dan air. Atau pun Haki di dalam One Piece yang mana mereka yang betul-betul fokus dapat mengoptimumkan tenaga di sekeliling mereka. Macam dalam One Piece, ada tiga jenis bentuk pengolahan Haki. Yang pertama, dia panggil Observation Haki. Di mana pengguna Haki jenis ini sangat sensitif dengan keadaan sekeliling. Boleh mengesan pergerakan sekeliling. Tahap kedua, Armament Haki. Membolehkan pengolah melindungi badan menggunakan Haki, untuk pertahanan dan juga menyerang. Yang last sekali, jarang yang ada dan dapat optimumkan - Conquerer's Haki. (Watch : Types of Haki) Macam dalam novel Takdir, orang yang auranya kuat boleh suppress orang lain, sometimes to the extent tak boleh nak angkat kepala langsung. Macam apa yang berlaku pada hero Angkasa masa dia kena suppress dengan End, salah seorang jeneral Sang Asura.
Conquerer's Haki [Short Clip]. Tenaga yang dilepaskan oleh Luffy ke sekelilingnya - melemahkan musuh-musuh di sekelilingnya.
Selain seni aura, dalam novel ini juga ada include pasal serba sedikit pasal gerak, kekuda mende alah semua. Dalam Tae Kwon Do panggil pattern atau Tul. Cantik. Jadi, bila novel ini pun ada mention pasal gerak, lagi lah excited. Macam perh, Hilal Asyraf ni. Dalam banyak-banyak, aku ada terpesona dengan gerak dalam cerita Avatar the Last Airbender. Masa ini dua-dua nak belajar 'true' firebending. Jadi mereka pergi belajar dengan Firebender asal, Dragon!! Macam buat team pattern lah pulak. Beautiful.
Link Video Dragon Dance oleh Aang dan Zuko. Banyak-banyak scene smart, scene ini antara favorite.
Selain perang, romantik pun ada. Suspens pun ada. Cara pembinaan karakter setiap watak sangat kemas dan teliti. Macam mana watak-watak sampingan pun boleh menarik pembaca berfikir pasal dia. Senang cerita, pembaca tak 'lost' sampai tak tahu nak expect apa sepanjang baca novel, juga tak boring sangat sebab jalan cerita dia dan pembinaan karakter dia sangat interesting. Penamaan dan penggunaan istilah pun sangatlah cool. Contoh agama Islam dipanggil agama Langit. Nabi Muhammad dipanggil utusan Langit. Macam ada satu situasi dimana Angkasa tengah baca Quran, ada orang lain, macam tertanya-tanya zaman tersebut jarang orang pandai baca Kitab Langit. Aku pun, ya Allah. Tak boleh smart lagi ke. Excited. Novel ini bagi idea macam mana Islam will prevail. Macam mana aqidah Islam itu kekal menjadi mutiara bagi penganut agama Langit, macam mana penganut itu mempengaruhi orang sekeliling. Orang-orang yang pada asalnya kosong agama dia, akhir sekali berjuang bersama-sama hero dan kawan-kawan dia.
Aku suka kisah pahlawan zaman dulu-dulu. Zaman nabi Muhammad - ramai sangat pahlawan-pahlawan hebat. Bukan sahaja pahlawan fizikal, tapi pahlawan dalam diri. Kalau zaman Crusade sibuk semua nak volunteer jadi Crusaders sebab dapat pengampunan dosa dari paderi dan pope - malah sepanjang Crusade mereka immune dengan dosa, bunuh semua termasuk saudara mereka Kristian Ortodoks sekali. Tapi pahlawan pimpinan nabi tidak begitu. Mereka kuat dalam dan luar. Bagi contoh Thalhah menahan berpuluh panah dengan badannya ketika perang Uhud untuk melindungi nabi yang terjatuh. Contoh lain Ja'far bin Abi Talib, sampai digelar Zul Janahain, yang memiliki dua sayap kerana keberaniannya berjuang ketika perang Mu'tah, putus dua tangan untuk memegang panji Islam. Bagi contoh 'Ali yang tidak jadi membunuh kerana diludah mukanya. Nak masuk pahlawan moden pula - kita bawa Yahya Ayyash yang syahid sebab handphone dia sendiri meletup, dikhianati oleh bapa saudaranya. Dia pakar bom, jurutera elektrik kelahiran Palestin. Nak lagi muda, aku bawa Faris 'Audah. Semua dah tahu cerita macam mana budak umur 14 tahun ini syahid. Tapi jangan lupa, pahlawan bukan sahaja orang yang berlawan orang lain. Fizikal, face to face. Ingat, mereka yang membantu anak yatim juga pahlawan, mereka yang berhempas pulas hidup dari hari ke hari surviving cancer juga pahlawan, mereka yang setiap hari pulang bekerja dan berbakti pada ibu bapa juga pahlawan, mereka yang sabar dengan ujian hidup juga pahlawan. Pahlawan, he never gives up!
Ingat nak buat post pasal kepahlawanan zaman nabi lah, aku bagi nama post tu "Warriors of the Past". Biar jadi motivasi. Macam dalam al Fatihah kita baca, "Jalan mereka yang TELAH diberi nikmat". Syeikh Hamza Yusuf hurai, untuk berjaya, kita rujuk jalan golongan yang Allah dah beri nikmat. Wallahu a'lam. :) Have a blessed day!
Masa kali pertama aku mendapat senarai nama daripada penyelaras, "Allah.. layak ke aku nak bawak budak-budak ni? Tak apa. Pelan-pelan kayuh". Masa kali pertama liqa', macam-macam fikrah gamaknya. Semua ada. Mereka ahli Nuqaba' Council SMIAAG. Mereka ini semua naqib-naqib untuk halaqah adik-adik tingkatan satu dan dua. Kali pertama liqa', aku buat jamuan. Depan pejabat sekolah. Nak tengok sorang-sorang, kenal dalam-dalam. Biar rapat hati.
Selepas itu, ada yang mula tak datang. Aku tahu - mereka tak bersetuju dengan dakwah Ikhwan. Advanced sungguh budak-budak zaman sekarang. Aku masa form 5 tak tahu pun mende alah macam ini. Tapi tak apa. Proceed dengan siapa yang ada. Mula-mula agak awkward. Ke arah mana aku nak bawa anak buah aku. Silibus ada, tapi aku rasa tak sesuai dengan mereka. Aku pun jumpa penyelaras, minta nak bawakan beberapa topik lain dari silibus. Alhamdulillah, diluluskan.
Membina, bukan sahaja tautan hati, tapi kefahaman - Muharikah Dalam tempoh pertama, aku ulangkaji balik nota-nota lama usrah dulu. Ambil buku rujukan modul tarbiyah Islamiyah yang aku beli masa aku jaulah di Indonesia, rujuk balik Maza Ya'ni. Aku bentang tajuk Madlulusy Syahadah (Dalil-dalil syahadah), Syarat Syahadah, Ma'na La Ilaha Illallah. Semua ini berjalan dengan panjang dan perlahan. Aku sediakan peta minda. Nota. Aku selang-selikan dengan ta'aruf. Iya. Sebab aku masih baru dengan mereka, aku nak bina tautan hati. Sesi ini agak lama. Tambah pula topik ini topik aqidah. Nabi Muhammad SAW ambil masa nak dekat 13 tahun, tanam aqidah dalam dada sahabat betul-betul. Tanam iman dalam-dalam.
Kemudian aku masuk bab nubuwwah. Lepas aku rasa semua dah jelas, aku proceed dengan buku 'Apa erti aku menganut Islam?' bahagian pertama. Bab Aqidah sahaja sudah makan masa yang lama. Bila tanya balik naqib aku pasal tajuk-tajuk aqidah itu untuk clear betul-betul, selalu kene bidas - "Itulah..dulu masa ana explain, anta main, anta tido, anta makan..ha..skng datang merayu nak talaqqi pulak". Aduh. Setempek kena. Dalam hati nak tergelak. Perli-perli dia pun, akhirnya dapat juga duduk semeja. Dia korbankan masa bertahun-tahun bina kami masa di Al-Amin. Dari tingkatan tiga lagi. Aku dan kawan-kawan aku pula, kalau ada bantal krohhh, ada keropok ngappp, ada air slurrrp. Sebab itu bila aku fikir balik, kalau dia boleh bersabar dengan kerenah kami, kalau dia sanggup endure lamanya kami nak develop kefahaman dan minat - aku mesti boleh. Aku bersetuju dengan Ustaz Hasrizal - sesimple mana presentation kita, haruslah ada preparation. Lagi-lagi dengan anak-anak usrah. Untuk membina manusia, perlu ada banyak faktor hadir serentak. Perlunya niat yang betul, semangat dan jiddiyah yang tinggi, sistem gerak kerja yang berkesan, silibus yang teratur, dan paling penting sekali - redha Allah. Yang penting, kita ambil serius dan buat terbaik untuk membina manusia.
10 peribadi muslim
Masa ini, fokus aku untuk bina peribadi Muslim. Memang aku sendiri masih cuba untuk fulfill perkara ini. Dan aku nak mereka tahu aku pun bersama-sama dengan mereka untuk membina diri mereka. 10 Peribadi Muslim."Lambat lah bang nak kahwin kalau tunggu semua ni siap..". =.=' Asyik nak kahwin je. "Tak apa, nta buat, nanti ada lah bunga yang sedang membina diri pun sampai. Kalau dah sampai seru, sama-sama lah bina diri dan masjid."
Quran wanewani! - Benih suburrr.. Tiap-tiap kali mula halaqah, aku mula dengan baca Quran. Kemudian aku minta seorang demi seorang round table, cuba explain pengajaran yang mereka dapat dari ayat yang kami baca. Setiap kali. Aku nak tekankan betapa seorang ikhwah perlukan Quran. Biar mereka kenal Quran macam kenal tapak tangan sendiri. Tengok Quran-Quran akhawat, fuuh. Berseri-seri dengan pelekat warna-warni. Silau mata memandang. Tapi ikhwah tak perlu sangat lah nak pelekat-lekat kan? Kita main lekat sikit-sikit je. Untuk tahun ini sahaja - aku go through Maza Ya'ni bahagian pertama. Aku tanam dalam-dalam sirah-sirah nabi dan sahabat, fasa Makkah & fasa Madinah. Selalu buat kuiz. Minta mereka kaitkan diri dengan sahabat-sahabat nabi. Kaitkan sehari-hari dengan nabi. Biar dekat di hati. Sampai masa tamrin mereka, penceramah tanya soalan pasal sirah - mereka lah yang menjawabnya, laju pula. Penceramah tanya, mereka angkat, jawab. Tanya, angkat, jawab. Lepas itu semua pandang aku buat muka bangga sorang-sorang dapat jawab soalan penceramah.
Lepas segmen sirah, masuk ahwalul muslimin. Hal ehwal umat Islam. Aku suka cerita pasal Palestin. Sebab aku nak mati dekat sana satu hari nanti. Lepas itu, aku open counter untuk mereka bercerita update diri, ibadah, luahan hati dan hal-hal sekolah. Sebab mereka pimpinan sekolah, kadang-kadang sesi itu jadi panjang. Sampai ada yang tertinggal bas. Tumpang orang lain balik. Bulatan comel aku buat tiap-tiap Jumaat, 4.30 sampai 6.30 petang. Kadang-kadang anjak Khamis, sebab nak iftar sekali. Akhir sekali, mutaba'ah ibadah. (*Ada part yang dirahsiakan. Harap maklum.)
Kadang-kadang, bila fikir balik tanggungjawab yang dipikul sangat berat. Aku perlu menggalas tugas walid - syeikh - qaid - 'alim. Kasih sayang - pembentukan diri - kepimpinan - ilmu. Banyak betul. Tapi bila fikir balik dah ramai yang usaha sehabis baik mereka untuk membina manusia, dan Allah permudahkan mereka. Aku juga menginginkan begitu.
Pelik, bila aku yang bawa mereka terasa ruhiyah aku yang naik pula. Tengok muda dan jernih jiwa mereka, amat rugi kalau disia-siakan untuk umat.
Mana Jemaahnya? Kadang-kadang ada juga anak buah yang tertanya-tanya, bila lah aku nak perkenalkan jemaah pada mereka. Oh tidak. Tidak lagi. Aku dengan naqib aku dulu 3 tahun menunggu. Dah habis SPM baru dia introduce. Aku pun macam itu. Kenalkan pada Allah, pada Islam, pada ukhuwah, pada wajibnya beramal untuk Islam dari segi prinsip, hukum, dan darurat. Kenalkan pada nabi, senang cerita biar kenal semua. Kemudian baru pilih jalan mana yang mereka nak serahkan komitmen seumur hidup mereka. Lepas itu, aku ambil prinsip - tak perlu nak cerita keburukan jemaah lain untuk ajak mereka masuk jemaah sendiri. Itu tindakan pengecut. Kata pejuang. Kena lah gentlemen.
Jadi, akhir liqa' kami minggu lepas. Di Ulu Yam. Sedihnya. Aku pesan elok-elok, macam naqib aku pesan pada aku, "Anak buah bukan milik naqib. Jangan sekali-kali ingat sebab kita dakwah dia, dia milik kita". Milik siapa jadinya? Milik Allah, hadiah untuk umat yang sedang bangun.
Untuk naik atas, kena ikut tangga dia. Aku selalu cakap dengan anak buah aku. Kita buat kerja kita. Jangan sibuk hal orang lain. Maratib amal itu kena tertib kita follow. Kadang-kadang mereka pun pening. Kenapa kita tak join je yang dah ada? Atau mana-mana? Kita tak bersatu lah kalau macam ni. Ye ke? Aku tanya balik. Aku tunjuk tangan aku - dalam tangan ada apa? Ada sel otot, ada kulit, ada connective tissue, ada urat saraf, ada bulu, semua ada. Untuk apa? Supaya tangan ini dapat berfungsi dengan baik. Untuk bersatu, tak perlu menjadi satu. Bila ada khilafah naik nanti, kita akan patuh pada yang telah naik. Sementara itu, kita teruskan dengan membina. :)
Memori best! Yang paling aku ingat, masa bulan Ramadhan. Nak iftar, kami semua pergi pasar malam. Ada seorang anak buah aku, naik motor dengan aku, entah macam mana mungkin sebab berat, tayar motor pecah. Haha. Habis aku balik rumah kena perli dengan Mama tersayang turunkan berat badan. Lepas itu, dengan mereka ini, janganlah buka topik kahwin ke cinta ke. Habis dua jam masa silibus dihabiskan meluahkan perasaan, melayan rindu dendam, tak sabar nak dewasa mende alah. Jadi lah tempat luahan. Macam-macam ditanya pasal mende alah perasaan ini. Penat jugak den nak mendengar satu-satu. Kelahkah pun ade.
Rehlah - syok sekali. Kitorang sangat suka mandi sungai dan makan ayam dan daging bakar! Dan mereka suka suruh aku terjun tempat tinggi dulu. Suka suruh aku masuk sungai dulu. Bila aku suruh mandi dulu masa kami bakar ayam, dok kate sungai kene dirasmikan dulu. Lepas itu bila aku keluar nak buat pengisian sikit sebelum balik, semua nak ajak buat dalam sungai. Dalam sungai pula duduk sibuk main masukkan pasir dalam baju orang, simbah-simbah air kat orang, sampai main tarik seluar pun ada. Nasib baik aku duduk jauh-jauh awal-awal lagi. Mereka kalau dah 'masuk air' lain jadi nya. Haha. Bila nak balik, semua liat nak keluar dari air. Macam badak pun ada. Rindu betul.
Ada yang tak datang masa ini. Semuanya ada 9 orang.
Sebab mereka budak SPM, aku sangat stresskan untuk mereka fokuskan pada belajar. Letak seiring. Seimbangkan. Antara fungsi bulatan comel ini pun, mentawazzunkan fikrah. Balance balik, takut lepas balik rumah terlepas tarbiyah zatiyah seminggu, timbul rasa nak bias itu ini, fanatik itu ini, betul salah itu ini, bosan best itu ini - jadi balance balik. Biar mereka tengok dunia dengan kaca mata yang rabbani.
Sinergi!
Lima batch berkerjasama untuk menjayakan Kem Qiyadah tahun ini. 13 - 14 - 15 - 16 - 17. Batch mane? Tengok kat jari kami.
Harapan aku, lepas mereka keluar. Mereka lah yang aku membangunkan umat di luar sana, pada masa yang sama tak melupakan Al-Amin tempat menyemai benih-benih subur untuk umat.
Terjun jangan tak terjun! Sekian. Penceritaan aku tentang bulatan gumbira aku bersama-sama anak-anak buah aku. Memang tak boleh cerita banyak-banyak. Mende ni kami rahsiakan selalu..sebab spesel :)
Amir Luqman - nak jadi akauntan.
Aku lah tu...
Nabeel di New Zealand
Khairul Iman bakal ustaz
Faruuq nak pergi belajar pondok Pasir Tumboh
Falah Azmi doktor muda.
Wassalam.
p/s - Siapa nak usrah>? Minat untuk membina diri, meningkatkan ruhi, mengenal Islam, bertemu dengan kawan-kawan yang OSEM dan sanggup mati untuk agama, tak perlu takut untuk buat salah sebab sini semua tegur je -tak simpan dalam tak main belakang. Dan paling best, kat sini semua manusia! Tak ada yang sempurna, tapi mengejar sempurna! :DD
p/s - Kalau nak, sila mesej! Haritu dah jumpa seorang lepasan SPM sekolah agama, nak mencari usrah. Jadi, kalau engkau orang pun nak join, sila lah. Komen boleh di sini, di FB pun boleh, mesej pun boleh.
Pemenang tempat kedua video OSEM Angel Pakai Gucci '11. Jom bangun sama-sama lawan raksaksa!
HIMPUN Aku seorang yang optimis. Mula-mula nak tulis opportunis, tapi tengok maksud dia kurang baik. Jadi, aku tukar jadi optimis. Yang aku maksudkan aku jarang untuk terus tak bersetuju dalam sesuatu perkara yang melibatkan perjuangan. Apa yang aku nampak, untuk setiap cabang dan jalan, ada orangnya. Aku ingat dulu aku usrah dengan ustaz Nazri yang jadi juri Akademi Quran masa di Darul Quran, walaupun dia ISMA, dia laksanakan tugas dia sebagai murabbi kami. Betul-betul dia tarbiyah kami, tanpa mengungkapkan sikit pun pasal jemaah-jemaah ini. Kami guna buku Maza Ya'ni. Sampai satu bahagian, dia tanya kami, bagaimana jalan nak sampai khilafah? Masing-masing kami memberikan pendapat. Macam-macam. Akhir sekali dia dengan muka selamba kata, kami semua ada betulnya. Bayangkan khilafah itu macam Darul Quran. Ada yang pergi DQ naik basikal, naik motor. Ada yang parents hantar. Ada yang naik KTM, nak kereta sendiri. Macam itulah umat Islam dalam perjuangan. Macam-macam method, macam-macam cara. Ada hikmah dia. Satu hari nanti, andai di KTM keretapi dia terbabas, andai jalan ada road block, andai si berbasikal di kejar anjing, akan ada juga yang sampai untuk memacakkan bendera tertegaknya khilafah. Boleh mengkritik - itulah asas pemacu untuk berjaya, tapi jangan menghalang laluan orang lain. Malam itu aku diajar untuk betul-betul berlapang dada. Dia memang murabbi yang sangat aku hormati.
Jadi, aku pun pergi ke HIMPUN dengan fikiran yang positif, dan mengharapkan sesuatu yang dapat beri impak yang signifikan kepada ummah. Aku pergi dengan kawan-kawan aku dari IIS. Kami pergi ke sana untuk melakukan survey - bertujuan untuk mendapat persepsi umum di samping menanam di dalam dada masyarakat sedikit sebanyak paradigma penyelesaian terbaik bermula dari diri sendiri. Sampai sahaja kami di sana, kami diperiksa oleh RELA untuk keselamatan. Aku dan Zul dari IMU solat dulu. Kami masuk ke stadium, disambut dengan banner-banner yang bersifat kemelayuan. Pendapat aku, kita patut berbangga dengan bangsa kita sendiri. Sebab itu 'trait' yang Allah bagi pada kita. Dan kita kena hargai. Jadi, aku tak ada masalah dengan banner-banner tertentu, bukan semua. Dan tugas kita bila wujud perbezaan - kita belajar. Ta'aarafu. Kemudian, bila aku tengok crowd, tak seramai yang dijangka. Aku pun fikir, biasalah benda macam ini. Kami mencari-cari Omar JAD untuk dapatkan borang survey. Lepas dapat - aku terus meluru(ceh macam semangat sangat je) untuk mencari mad'u-mad'u untuk disurvey dan di dakwah. Macam-macam orang yang aku jumpa, survey dan bawa dia berbual. Dari perokok ultra-Melayu berbibir hitam, orang muda berjubah putih berselendang hijau, wanita-wanita muda berseluar jeans berbaju ketat, kepada makcik dan pakcik yang hampir tidak larat untuk memanjat tangga stadium. Hampir semua lapisan ada - untuk berada di situ menunjukkan sokongan kepada pembelaan agama. Dalam sesi-sesi panjang temubual, sela-sela masa aku berhenti untuk mendengar ucapan-ucapan.
MUNSYID
Dalam temubual berborak punya style - aku membawa pendekatan yang diajar oleh Allah kepada umat Islam semasa perang Uhud. Pendekatan yang agak 'pahit'. Di mana terkorbannya Abdullah bin Jubair si ketua pemanah di puncak bukit Rummat ketika perang Uhud. Di saat sebelumnya, Abdullah terjerit-jerit menghalang sahabat-sahabat pemanah lain untuk turun ke medan perang bagi merebut ghanimah yang terbiar. Di saat orang kafir berpatah balik diketuai oleh Khalid al Walid untuk kembali mengalahkan Islam. Di kala Abdullah bin Jubair syahid dalam ketaatan, umat Islam kalah disebabkan segolongan mereka ingkar arahan. Lalu membantah sahabat nabi Abdullah bin Mas'ud; seorang sahabat yang utama dalam ilmu Al Qurannya - katanya masakan kita kalah disebabkan sahabat nabi sendiri ingkar arahan untuk mengejar ghanimah. Hal ini tidak mungkin terjadi kepada sahabat nabi. Ditegurnya oleh Allah -
| (Patutkah kamu melanggar perintah Rasulullah)? dan (kemudiannya) apabila kamu ditimpa kemalangan (dalam peperangan Uhud), yang kamu telahpun memenangi seperti itu sebanyak dua kali ganda (dengan menimpakan kemalangan kepada musuh dalam peperangan Badar), kamu berkata: "Dari mana datangnya (kemalangan) ini? "Katakanlah (wahai Muhammad): "Kemalangan itu ialah dari kesalahan diri kamu sendiri". Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. [Ali 'Imran 165]
Pendekatan apa? Self-correct paradigm. Apabila ditanya soalan ini, "Apakah faktor gejala murtad di Malaysia? Disebabkan oleh aqidah umat Islam lemah, atau gerakan Kristian, kelemahan akta kerajaan atau ada faktor lain?" hampir 100 peratus menjawab 'Salah gerakan Kristian'. Dari soalan ini, aku cuba untuk membawa yang ditanya menelusuri sirah, dan cuba membentangkan idea dan paradigma yang ingin aku terapkan, aku membuat perbandingan dua tiga idea dan pendekatan - seandainya dia tertarik dan terbuka, aku terus bercerita. Seandainya dia masih berkeras, aku biarkan. Aku amat yakin, kita akan kuat sekiranya aqidah kita kuat. Kita akan kuat, apabila hubungan dengan Allah kita kukuh. Kita bukan umat tahyul, yang mengabaikan sunnatullah dan mempercayai hanya dengan berdoa semua selesai. Kita umat Muslim Malaysia, umat yang dinamik dan maju. Cuma, paradigma 'defensif dan paranoid' itu perlu diubah.
Iya. Islam itu antara cirinya yang istimewanya ialah inqilabiyah - tertegak atas keruntuhan jahiliyah. Tapi, ini bukan aspek aplikasinya. Kita harus menjadi kuat melalui aqidah kita, bukan kuat atas lemahnya orang lain. Aku setuju diadakan HIMPUN. Namun, isi HIMPUN ternyata jauh dari sangkaan aku. Yang aku jangkakan ucapan-ucapannya akan berbaur motivasi dan urgency untuk memantapkan aqidah umat Islam, pergi menjadi ucapan "Hidup Melayu! Hidup Raja-raja!" dan memberi amaran kepada umat bukan Islam agar jangan menggugat umat Islam. Islam tak sepatutnya di'potray' sebegitu. Dunia sudah berubah. Zaman sudah berubah. Cara sebegitu tak sesuai lagi. Dakwah itu adalah bagaimana untuk mengetuk pintu hati. Apabila ucapan-ucapan lebih kepada perkauman dan teknikal, yang hadir tidak merasakan tanggungjawab untuk membuat pemantapan aqidah untuk diri sendiri mahupun merasakan tanggungjawab untuk memantapkan aqidah orang lain. Malah hadirin lebih leka, kerana 'blame' itu sudah dishiftkan kepada kerajaan dan gerakan Kristian. Sedih. Umat Islam hari ini, perlu bangun dari tidur. Isu Aqidah bukan isu mudah.
Bila aku balik malam itu, dalam KTM - teringat kisah Khabbab bin Arat. Kita selalu makan kebab kan? Nama kebab asal dari nama sahabat ini lah. Ceritanya? Khabbab ini sahabat nabi, seorang tukang besi. Dia diseksa sangat teruk ketika zaman Mekah dulu. Badannya disikat dengan sikat besi yang merah membara, disikat-sikat sehingga terkoyak daging-dagingnya. Itu baru bahagian belakang badan. Di bahagian hadapan, ditabur bara-bara. Sehingga bara-bara itu terpadam sendiri oleh air dan darah dari badan beliau sendiri. Betapa kuatnya ujian sahabat ini. Khabbab kerana tak tertahan perit seksaannya berjumpa Nabi Muhammad, untuk memohon doa membalas orang kafir dan menyelamatkannya. Nabi menjawab - adakah kamu tidak malu? Orang terdahulu ada yang badannya ditanam dan dibelah dua hidup-hidup. Seksaan mereka lebih dahsyat. Khabbab memilih untuk terus bersabar dan mempertahankan imannya. Tapi umat pada masa hari ini, dengan mudahnya mengalihkan tanggungjawab aqidah kepada pihak lain. Sedangkan ianya tanggungjawab kita.
Bro Hariz explain pada gadis-gadis Melayu terakhir.
Berkongsi pandangan dengan seorang dari Hizbut Tahrir.
Akhir - alhamdulillah. Aku seronok dengan Hasan Ali. Ucapan dia memang power. Dia memang politician yang sangat aku respek. Cara dia memandang satu-satu perkara. Cara dia menguruskan kebajikan tempat dia. Macam dia jaga tempat aku - Gombak. Selalulah ada pemberian hadiah untuk pelajar, ada TAWAS, ada futsal, ada kelas memasak, ada meriahkan masjid. Memang tip-top. Dia akhiri HIMPUN dengan Zikir dan doa, dan meminta sama-sama memantapkan aqidah. Alhamdulillah, aku seronok.
Suasana ketika Hasan Ali berdoa. Masya Allah..spiritual.
* Berborak dengan seorang Pakistanese. Tiba-tiba dia duduk sebelah dalam KTM, senyum seorang-seorang - tanya "You are Pakistanese?". Cis..aku sentiasa disalah erti. Bapak orang lah,suami orang lah, ini Pakistanese pulak. Nak gelak den.. Aku orang Melayu lah. Kami berborak panjang. Nama dia Rana Fayyaz, surprisingly nama adik dia Asif. Haha.. Dia pun kata akhir-akhir masa dia nak turun KTM, "I have a sister, looking forward to coming Malaysia" sambil senyum-senyum. Sengal. Pikir nak kahwin je.. Sebab abang dia buka bisnes sini, dan kahwin dengan orang Kelantan. Jadi, dia minat orang Kelantan. Dan aku pun orang Kelantan. Bila tanya bisnes apa, dia jawab 'Tuding'. Punyalah pikir tuding tu bahasa apa. Tengok-tengok tudung. Haha.
Bersama Nidzam. Ceit..baju Sharing Islam aku basuh masa tu.
Dialog Harmoni - Sehari selepas HIMPUN Kami kena ada di Masjid Shah Alam pukul 6.45 pagi. Jadi aku keluar rumah pukul 5.00 pagi. Sejuk jugak. Solat subuh di masjid sebelah UIA PJ, kemudian terus memecut ke Shah Alam. Tepat-tepat sampai pukul 6.45 which is not bad since that was the first time I went there by myself with my bike.
Nidzam dan adik comel sebelah kami. Kecil-kecil dah datang dialog..ganasss
Dialog Harmoni tersebut berlangsung di Perak, Soka Gakkai Malaysia. Di antara Studio Muallaf dan Soka Gakkai. Seronok. Yang mana, mereka bercakap dalam Bahasa Melayu. Jadi, rasa sangat seronok. Sedangkan panelis semua Cina - Muslim punya panelis Xifu Naser dan Dr Yamin Cheng. Buddhist punya panelis Madam Fung dan Mr Tan. Mereka bercakap dalam Bahasa Melayu, untuk saling memahami budaya dan agama sendiri.
Madam Fung dan Moderator Roby Zaid
Mr Tan, Xifu Naser, dan Dr Yamin. Smart mereka
Yang menariknya, jika dibuat perbandingan - suasana di HIMPUN terasa sangat defensif dan hostile, namun di Dialog lain pula suasananya. Suasananya open dan berlapang dada. Masing-masing menghormati agama masing-masing. Contohnya semasa pengenalan agama masing-masing, nampak cara presenting Islam dengan berkesan kepada non-Muslims. I cant help, because I'm a Muslim, and I am confident that Islam is the best way of life in any aspect I could mention and think - jadi, tujuan ke sana adalah untuk berkongsi dan belajar. Poin menarik dari Xifu - Islam bukan datang untuk convert semua orang jadi Muslim, itu adalah perkara mustahil dalam bidang manusia, tapi Allah letakkan tugas Muslim, Islam sebagai Rahmat seluruh alam. Rahmatan lil 'Alamiin. Biar mereka semua sejahtera di bawah naungan Islam.
Mereka menghormati kita sebagai Muslim. Mereka memahami 'nature' Islam yang murtad tidak dibolehkan. Perbincangan pada hari itu berkisar sekitar pembudayaan dan keagamaan. Ramai Cina Muslim hadir di situ juga setidaknya membuang paradigma masuk Islam bermakna masuk Melayu. Paradigma yang mengakar 'masuk Islam masuk Melayu' ini sangat parah, seperti yang diungkapkan oleh Sis Yap dari MACMA. Yang seronok juga, mereka menyambut budaya kita dengan memainkan piano lagu 'Bubur Ayam' dengan Sepaku Gelang.
Ada kata-kata dari Dr Yamin Cheng, mengenai banyaknya persamaan nilai dalam Buddha dan Islam. Persamaan nilai dalam Confucius dengan Islam. Aku setuju sedikit sebanyak. Masya Allah, ada seorang auntie Muslim berbangsa Cina dengan tegas mengatakan, "Past is the past. We do not bring our past into our present..If we were a Buddhist, and now we are a Muslim, we don't embrace our Buddhist past". Terkejut. Masya Allah, betapa dia benci untuk kembali ke zaman jahiliyah dia. Aku maklum, sesalan masa dahulu semasa belum memeluk Islam tentunya kuat dan dalam. Yang mana perasaan itu takkan difahami oleh mereka yang lahir dalam Islam. Mereka menghargai aqidah mereka lebih dari kita. Itu yang aku nampak dalam diri mereka yang revert.
Masa makan - aku makan dengan auntie dari MACMA. Nampaknya Malaysians masa sesi Q & A mesti ada yang nak jadi panelis tambahan. Kita kena belajar tanya soalan. Sebab orang lain pun nak tanya.
Want to know about this dialog? Usha link Nidzam - kamceng Shah Alam. Dia ini dah jadi aktivis tegar dah.
Kenapa tajuk aku dua sisi syiling? Kerana dalam dua-dua event ini, ada dua sifat yang tak boleh dipisahkan. Sifat terbuka, dan sifat defensif. Dalam diri kita, aku rasa kita kena pandai olah dua sifat ini untuk maju ke depan. Dalam aspek aqidah punya ancaman, iya - defensif lah. Contohnya, macam mana Palestin kena bom, macam mana kita nak asingkan diri dari jahiliyah, macam mana kita nak buang sifat-sifat yang buruk. Tapi kita perlu bersifat terbuka dalam bersosial dengan masyarakat. Bukan terbuka sehingga menggadaikan prinsip ikhtilat tidak, itu kena defensif, tapi terbuka untuk kita belajar dan mengajar. Da'wah - kita perlu membuka hati orang.
1. Aku sokong tujuan asal HIMPUN. Aku sokong. Cuma, bila dah lari tujuan asal - aku jadi tak setuju. Dan aku harap impak positif dia pada Islam akan jadi lebih banyak dari impak negatif pada Islam.